Sunday, September 14, 2008

Surabaya Design Week 2008



DESIGN UNLEASHED November 7th - November 9th 2008

- Surabaya, much like any other big city in the world, has complex multi-dimensional issues. As a city, Surabaya must be able to present a livable atmosphere by providing optimum facilities and services to its citizens. Various limitations cannot justify urban authorities for not giving the best of services to society. The same limitations also encourage citizens to think outside the box in dealing with these multi-dimensional issues. It's the same "thinking outside the box" that may also boost social economy, encouraging changes, and ultimately better the city.

- Kota Surabaya sebagaimana kota besar di Indonesia tentunya memiliki permasalahan multidimensional yang cukup pelik. Sebagai sebuah kota tentulah Surabaya dituntut untuk bisa menyediakan sarana/fasilitas dan prasarana beserta pelayanannya yang memadai kepada warganya, sehingga warganya dapat ‘hidup’ secara ekonomi, manusiawi dan berbudaya (civilized society). Dengan segala keterbatasan pemerintah kota dalam melayani warganya tidaklah menjadi pembenar dan pembiar atas terjadinya problem perkotaan. Salah satu cara lain yang coba dihelat untuk turut membantu meringankan permasalahan kota Surabaya adalah paradigma disain kreatif. Mencoba membantu memecahkan permasalahan kota dengan segala keterbatasan, merancang ‘keterbatasan’ sebagai pemicu lahirnya kreativitas dan inovasi yang solutif untuk turut membantu memecahkan sebagian permasalahan kota Surabaya. Selain itu kreativitas dan inovasi dapat dijadikan salah satu cara untuk menggerakkan ekonomi masyarakat, menggerakkan perubahan dan perbaikan kota.

Untuk informasi lebih lanjut silakan menghubungi / For further information, please contact:

Jl. Gajahmada 3 no.26
Sawotratap-Sidoarjo, Indonesia
Telp +6281 758 2927 (April); +6281 2300 79879 (Reda)
Fax +6231 853 1336
email: deMAYA@yahoogroups.com

Wednesday, September 10, 2008

Planless Concept vs Urban Land-use Issues

Konsep Plan-less sangat erat kaitannya dengan perancangan/perencanaan katalitik; dimana perencanaan katalitik merupakan perencanaan yang strategis. Walau dalam konteks ini metode perencanaan tersebut dikemas dengan istilah Plan-less Concept (Tanpa Rencana) bukan berarti konsep yang diaplikasi terjadi dengan sendirinya. Produk akhir dari model perencanaan seperti ini bukanlah sebuah rencana tata ruang (Plan) melainkan adalah sebuah program ruang.

Penerapan model perencanaan seperti ini dapat digunakan untuk mengembalikan fungsi dan mengendalikan zona-zona yang telah dilanggar. Pertimbangan implementasi konsep ini adalah karakter perencanaan katalitik itu sendiri dimana dalam model perencanaan ini sebuah komponen baru diperkenalkan kedalam konteks yang telah ada. Komponen baru ini nantinya akan mempengaruhi konteks sehingga terjadi perubahan sesuai dengan program yang telah ditentukan.

Perubahan yang diharapkan tentunya adalah perubahan yang positif; oleh karena itu reaksi yang ditimbulkan oleh komponen baru tersebut hendaknya dikendalikan sehingga tidak merusak konteks aslinya. Dan karena sifat/pola "reaksi kimia" yang terjadi tidak ditentukan sebelumnya, maka tidak ada rumus yang pasti untuk setiap konteks. Dalam hemat saya sifat ini merupakan kelemahan pada model perencanaan katalitik.

Letak keindahan konsep ini adalah pada komponen yang akan diperkenalkan kedalam konteks. Pembentukan/formulasi komponen ini dipengaruhi oleh konteks yang akan ia "sentuh", dan pada akhirnya mempengaruhi konteks yang ia penetrasi. Oleh karena komponen baru ini dipengaruhi oleh konteks, maka komponen baru ini harus dimengerti, dipertimbangkan, dan diterima keadaannya terlebih dahulu.